-->

Halaman

    Social Items

Gareng : Filosofi, Makna yang Terkandung dalam Kehidupannya

Mengenal Punokawan, Sang Legenda Lucu namun Penuh dengan Filosofi 

Semar adalah salah satu tokoh dalam budaya Jawa yang sangat terkenal dan dihormati oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Semar dianggap sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan bagi masyarakat Jawa. Di samping itu, Semar juga dianggap sebagai pelengkap dari tokoh-tokoh pewayangan yang lain seperti Gareng, Petruk, dan Bagong.


Baca juga: Makna Bagong dan Filosofinya, Tokoh Pewayangan Jawa.

                  Makna dan Filosofi Petruk Pewayangan Punokawan

Semar dikenal sebagai tokoh yang memiliki banyak keunikan. Secara fisik, Semar digambarkan sebagai tokoh yang pendek, gemuk, dan berkumis tebal. Namun, di balik penampilannya yang seperti itu, Semar memiliki kebijaksanaan dan kearifan yang sangat tinggi. Ia sering dianggap sebagai penengah dalam setiap konflik yang terjadi di antara tokoh-tokoh pewayangan lainnya.

Tidak hanya itu, Semar juga dianggap sebagai sosok yang sangat humoris dan selalu dapat membuat orang lain tertawa. Humor yang dimiliki oleh Semar seringkali disampaikan dalam bentuk sindiran, namun tetap tidak merendahkan atau menyakiti hati orang lain. Kemampuan Semar dalam hal ini dianggap sangat penting karena mampu membantu mengurangi ketegangan dalam sebuah pertunjukan pewayangan.

Selain sebagai tokoh pewayangan, Semar juga dianggap sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Konsep Semar dalam masyarakat Jawa seringkali dihubungkan dengan konsep kebijaksanaan, keterbukaan, dan kesederhanaan. Semar dianggap sebagai tokoh yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Jawa untuk menjadi sosok yang bijaksana dan selalu memiliki rasa keterbukaan terhadap orang lain.

Dalam kebudayaan Jawa, Semar juga sering dihubungkan dengan konsep kearifan lokal atau yang dikenal dengan istilah "nguri-nguri budaya". Konsep ini diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan dan melestarikan budaya lokal yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Semar dianggap sebagai sosok yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Jawa untuk selalu mempertahankan dan melestarikan budaya lokal mereka.



1. Asal-Usul dan Peran Semar dalam Pewayangan Jawa

Semar memiliki asal-usul yang cukup kompleks dalam pewayangan Jawa. Ada beberapa versi mengenai asal-usul Semar, namun salah satu versi yang paling dikenal adalah bahwa Semar adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu.


Dalam pewayangan Jawa, Semar dianggap sebagai tokoh tertua yang memiliki peran penting sebagai penengah dalam setiap konflik yang terjadi di antara tokoh-tokoh pewayangan lainnya. Ia dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan selalu berbicara dengan penuh hikmah dalam setiap kesempatan. Selain itu, Semar juga dianggap sebagai sosok yang mampu memberikan solusi dari setiap masalah yang dihadapi oleh para tokoh pewayangan lainnya.


Tidak hanya itu, Semar juga dianggap sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan bagi masyarakat Jawa. Oleh karena itu, Semar sering dipuja dan dihormati oleh masyarakat Jawa dalam bentuk ritual-ritual tertentu seperti upacara pernikahan atau upacara-upacara keagamaan.
Peran Semar dalam pewayangan Jawa juga sangat penting karena ia seringkali menjadi penyeimbang dalam setiap pertunjukan pewayangan. Ketika ada tokoh pewayangan yang terlalu sombong atau terlalu agresif, Semar akan muncul untuk menenangkan suasana dan mengajak para tokoh lainnya untuk berpikir secara bijaksana.


Dalam kebudayaan Jawa, Semar juga dianggap sebagai sosok yang mampu menghubungkan antara dunia manusia dan dunia roh. Oleh karena itu, Semar juga sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kemampuan supranatural seperti mampu berkomunikasi dengan arwah leluhur atau mampu membaca tanda-tanda alam.


Secara keseluruhan, peran Semar dalam pewayangan Jawa sangatlah penting. Ia bukan hanya sebuah tokoh pewayangan yang memiliki kebijaksanaan dan keunikan, namun juga dianggap sebagai sosok yang dapat membawa keberuntungan dan selalu menjadi penengah dalam setiap konflik yang terjadi di antara tokoh-tokoh pewayangan lainnya. Oleh karena itu, Semar dihormati dan dijaga keberadaannya oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.

2. Keunikan Fisik dan Karakter Semar yang Menghibur

Semar memiliki keunikan fisik dan karakter yang menghibur dalam pewayangan Jawa. Secara fisik, Semar memiliki ciri khas wajah yang mirip dengan seekor kera dengan mulut yang selalu terbuka lebar. Ia juga memiliki rambut putih yang panjang dan melambai-lambai, serta postur tubuh yang gemuk dan agak membungkuk.


Sementara itu, karakter Semar yang menghibur terletak pada sikapnya yang selalu ceria dan humoris. Ia selalu bisa membuat para penonton tertawa dengan gaya bicaranya yang kocak dan penuh dengan pantun-pantun lucu. Selain itu, Semar juga dianggap sebagai sosok yang lembut dan penyayang, sehingga ia seringkali menjadi tempat curhat bagi para tokoh pewayangan lainnya.


Keunikan karakter Semar yang menghibur ini dianggap sangat penting dalam pertunjukan pewayangan Jawa. Ia mampu membuat suasana pertunjukan menjadi lebih hidup dan menghibur, sehingga para penonton tidak mudah merasa bosan. Selain itu, keunikan fisik Semar yang unik juga membuatnya mudah dikenali oleh para penonton.


Namun, di balik keunikan fisik dan karakter Semar yang menghibur, terdapat pesan moral yang ingin disampaikan. Semar selalu berbicara dengan bahasa yang sederhana namun penuh hikmah, sehingga para penonton dapat mengambil pelajaran dari setiap perkataannya. Ia juga selalu mengajak para tokoh pewayangan lainnya untuk berpikir bijaksana dalam setiap tindakan yang diambil, sehingga pertunjukan pewayangan Jawa tidak hanya sekedar hiburan semata namun juga mengandung nilai-nilai moral yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Secara keseluruhan, keunikan fisik dan karakter Semar yang menghibur sangatlah penting dalam pertunjukan pewayangan Jawa. Ia bukan hanya sebuah tokoh pewayangan yang menghibur namun juga dianggap sebagai sosok yang membawa pesan moral yang bermanfaat untuk para penontonnya.

3. Kebijaksanaan Semar dalam Menyelesaikan Konflik Pewayangan

Dalam pewayangan Jawa, Semar dikenal sebagai sosok yang bijaksana dan selalu menjadi penengah dalam setiap konflik yang terjadi antara tokoh-tokoh pewayangan lainnya. Ia memiliki kemampuan untuk melihat dari segala sudut pandang, sehingga mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang paling tepat dan adil.

        Baca juga : 


Kebijaksanaan Semar dalam menyelesaikan konflik pewayangan terlihat dari cara bicaranya yang selalu santun dan penuh hikmah. Ia tidak pernah memihak pada satu pihak saja, melainkan berusaha untuk mencari solusi yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Ia juga selalu mengajak para tokoh pewayangan untuk berpikir jernih dan mengedepankan akal sehat dalam mengambil keputusan.


Selain itu, Semar juga memiliki kemampuan untuk membaca situasi dengan baik, sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Ia tidak hanya mengandalkan kebijaksanaannya dalam berbicara, namun juga dalam bertindak. Ia selalu mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi dari tokoh pewayangan lainnya.


Kebijaksanaan Semar dalam menyelesaikan konflik pewayangan ini dianggap sangat penting dalam pertunjukan pewayangan Jawa. Ia menjadi contoh bagi para penonton untuk selalu mengedepankan akal sehat dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Selain itu, kebijaksanaan Semar juga menjadi contoh bagi para pemimpin untuk selalu mengutamakan kepentingan bersama dan tidak memihak pada satu pihak saja dalam menyelesaikan konflik.


Dalam kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan Semar dalam menyelesaikan konflik pewayangan juga dapat diaplikasikan. Kita dapat belajar untuk selalu mempertimbangkan segala sudut pandang dalam mengambil keputusan, serta mengendalikan emosi dan menghindari provokasi agar tidak terjerumus dalam konflik yang lebih besar.


Secara keseluruhan, kebijaksanaan Semar dalam menyelesaikan konflik pewayangan merupakan nilai yang sangat penting dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi contoh bagi para penonton untuk selalu mengedepankan akal sehat dan bijaksana dalam mengambil keputusan, serta menjadi teladan bagi para pemimpin untuk selalu mengutamakan kepentingan bersama dalam menyelesaikan konflik.

4. Semar dalam Konsep Kearifan Lokal dan Melestarikan Budaya Jawa

Semar tidak hanya memiliki peran penting dalam pewayangan Jawa, namun juga memiliki kontribusi dalam melestarikan budaya Jawa dan memperkuat konsep kearifan lokal. Hal ini terlihat dari filosofi yang terkandung dalam karakter Semar yang memiliki nilai-nilai yang erat kaitannya dengan kearifan lokal dan budaya Jawa.


Salah satu nilai kearifan lokal yang dapat diambil dari karakter Semar adalah keberagaman. Dalam pewayangan Jawa, Semar digambarkan sebagai tokoh yang memiliki tiga wujud, yaitu Togog, Bangun, dan Gundul. Hal ini merepresentasikan keberagaman yang ada di masyarakat Jawa, yang terdiri dari berbagai latar belakang dan karakter yang berbeda-beda.


Selain itu, Semar juga dikenal sebagai sosok yang mengutamakan persatuan dan kesatuan. Ia selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan antara tokoh-tokoh pewayangan lainnya dan mendorong mereka untuk saling bahu-membahu dalam menghadapi tantangan yang ada. Hal ini merupakan nilai yang sangat penting dalam kearifan lokal Jawa, yang menempatkan kebersamaan dan gotong royong sebagai prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat.


Selain memperkuat konsep kearifan lokal, karakter Semar juga memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Jawa. Dalam pewayangan Jawa, Semar digambarkan sebagai sosok yang selalu membawa simbol-simbol budaya Jawa, seperti wayang, tatah sungging, dan berbagai jenis alat musik tradisional. Ia juga sering kali memberikan petuah dan nasehat yang sarat dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa, seperti sopan santun, hormat pada yang lebih tua, dan penghormatan terhadap leluhur.


Kehadiran karakter Semar dalam pewayangan Jawa juga menjadi wadah untuk menjaga kelestarian seni budaya tradisional Jawa. Pertunjukan pewayangan Jawa yang menampilkan karakter Semar dapat menjadi sarana edukasi dan hiburan bagi masyarakat, serta menjadi alat untuk melestarikan seni budaya tradisional Jawa.


Dalam era globalisasi dan modernisasi yang semakin cepat, nilai-nilai kearifan lokal dan kebudayaan tradisional seringkali terabaikan. Namun, kehadiran karakter Semar dalam pewayangan Jawa dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus memperkuat konsep kearifan lokal dan melestarikan budaya Jawa.

5. Kepentingan dan Pengaruh Semar dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Semar adalah salah satu tokoh dalam mitologi Jawa yang sangat penting dan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Berikut ini adalah beberapa kepentingan dan pengaruh Semar dalam kehidupan masyarakat Jawa:

a. Sebagai pelindung dan penolak bala

Semar dianggap sebagai pelindung dan penolak bala dalam kehidupan masyarakat Jawa. Banyak orang yang memuja Semar dan meminta perlindungan dari berbagai macam bahaya seperti penyakit, bencana alam, dan sebagainya.

b. Sebagai lambang kebijaksanaan

Semar dianggap sebagai lambang kebijaksanaan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Semar sering diidentikan dengan sosok yang bijak, cerdas, dan memiliki banyak pengalaman. Oleh karena itu, banyak orang yang menghormati dan memuja Semar karena kebijaksanaannya.

c. Sebagai penguasa dunia bawah

Semar juga dianggap sebagai penguasa dunia bawah dalam kepercayaan masyarakat Jawa. Dalam mitologi Jawa, Semar dikatakan sebagai raja dari para jin dan roh yang hidup di alam bawah. Oleh karena itu, banyak orang yang memuja Semar dan memberikan sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada Semar.

d.Sebagai pendorong kreativitas

Semar juga dianggap sebagai pendorong kreativitas dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam seni budaya Jawa seperti wayang kulit, Semar sering kali dijadikan sebagai tokoh yang humoris dan lucu. Hal ini diharapkan dapat mendorong orang untuk lebih kreatif dalam mengekspresikan diri melalui seni.

e. Sebagai lambang persaudaraan

Semar juga dianggap sebagai lambang persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam mitologi Jawa, Semar dikatakan sebagai abdi dalem dari Prabu Rama. Oleh karena itu, Semar dianggap sebagai sahabat setia Prabu Rama dan juga menjadi lambang persaudaraan dan kekeluargaan dalam masyarakat Jawa.

Secara keseluruhan, Semar adalah tokoh yang sangat penting dalam budaya Jawa. Ia bukan hanya sebuah tokoh pewayangan yang memiliki keunikan dan kebijaksanaan, namun juga dianggap sebagai sosok yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Jawa untuk menjadi sosok yang bijaksana, selalu memiliki rasa keterbukaan terhadap orang lain, dan selalu mempertahankan dan melestarikan budaya lokal mereka. Oleh karena itu, peran Semar dalam kehidupan masyarakat Jawa sangatlah besar dan penting untuk dihargai dan dijaga keberadaannya.

Yuk Kenalan dengan Mbah Semar: Tokoh Pewayangan Jawa yang Bijaksana dan Menghibur

Siapa sih Semar Sebenarnya?

Tak kenal maka tak kampleng! Sopo sih sing ga kenal Semar? Setidaknya kebanyakan orang tahu Semar adalah seorang leader dari empat sekawan ‘Punakawan’.  Memang tokoh Semar sebatas melucu dan pereda ketegangan dari penonton di tengah malam. Namun, menurut Sobirin bahwa dulu Sang Hyang Wenang menciptakan Hantigo berupa telur. Cangkangnya dinamai Togog, sedang putihnya berubah menjadi Semar. Sedangkan warna kuningnya menjadi Bathara Guru.

SEMAR.........adalah seorang putra Sanghyang Tunggal dan dewi Wiranti. Ia mempunyai dua sanak saudara yaitu Sanghyang Antaga (Togog) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). 3 bersaudara itu berasal dari telur yang bersinar. Ketika dipuja oleh Sanghyang Tunggal telur itu kulitnya pecah menjadi Togog, putihnya menjadi Semar dan kuningnya akhirnya menjadi Batara Guru. Pada waktu di kahyangan Semar mempunyai nama Sanghyang Ismaya dan mempunyai istri Kanastri. Berputra sepuluh orang. 

Sebutan lain Semar : Saronsari, Ki lurah Badranaya, Nayantaka, Puntaprasanta, Bojagati, Wong Boga Sampir, Ismaya.

Semar berwatak : ramah, sabar, jujur,  suka humor. Setelah turun dari kahyangan ia menjadi abdi (panakawan) yang selalu memberi dan pembimbing bagi para kesatria. Dikisahkan di kahyangan ia adalah sesosok yang tampan dan rupawan namun setelah menjadi semar, dan turun ke arcapada (dunia) badannya berubah menjadi gemuk, pendek, dan berwajah lucu ceria karena matanya selalu berair.


Dikisahkan pada waktu Antaga, Ismaya, dan Manikmaya mengikuti sayembara menelan gunung."Barang siapa yang berhasil  menelan gunung lalu mengeluarkannya lewat dubur maka akan menjadi raja di tiga dunia (jagad luhur, madya, andhap). Antaga mencoba dengan kemampuannya, tetapi tidak bisa  malah mulutnya mengalami sobek dan matanya melotot tajam. Sedangkan Ismaya dapat menelan gunung tapi tidak bisa mengeluarkannya sehingga perutnya buncit, membesar dan matanya berair ( karena saking menahan rasa sakit ). Akhirnya giliran Sanghyang Manikmaya, dengan ilmunya dia berhasil menelan gunung dan diangkat menjadi raja di Kaendran atau Suralaya, juga menguasai jagad madya dan jagad andhap. Kemudian Ismaya ditugaskan oleh Sanghyan Wenang untuk turun ke bumi menjadi pengikut  para kestaria keturunan Witaradya termasuk leluhur pandawa.


Semar berkediaman di Karang Kedempel, bernama semar Badranaya, dan mengangkat anak tiga orang yaitu : Gareng, Petruk dan Bagong. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong disebut Punakawan, yang mempunyai makna teman yang setia. Punakawan selalu ikut dan mengabdi kepada kesatria yang membela kebenaran, dan selalu menjadi penghibur apabila junjungannya sedang sedih. Semar juga dapat menjadi sarana ketentraman dan kemuliaan bagi negara yang ditempatinya. Pandawa telah menganggap Semar seperti penasihat pribadinya. Pandawa tahu bahwa Semar adalah dewa agung yang turun ke bumi untuk keselamatan dan keadilan. Selain itu punya watak arif bijaksana, tidak suka marah, suka bercanda.

Panakawan, ......pana berarti tahu............. kawan artinya teman. Panakawan : tahu apa yang harus dilakukan ketika mendampingi tuannya (majikannya) dalam keadaan suka maupun duka, penuh cobaan dan godaan untuk menuju arah kemuliaan.

Makna dan Filosofi Semar Sang Pemimpin, Tokoh Pewayangan Jawa.

Dan Siapakah Bagong itu? 

Bagong digambarkan seorang yang berbadan pendek, gemuk seperti semar tetapi memiliki mata dan mulut lebar. Ia memiliki watak suka bercanda, pintar membuat lelucon, bahkan saking lucunya bisa membuat orang lain salah mengartikannya

BAGONG ....................adalah anak angkat Semar yang ketiga. Dia adik Gareng dan Petruk. Dickisahkan ketika itu Gareng dan Petruk minta dicarikan teman, sanghyang Tunggal bersabda :"Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri." Seketika itu bayangan berubah menjadi manusia dan selanjutnya diberi nama Bagong. 

Bagong berbadan pendek, gemuk seperti semar tetapi mata dan mulut lebar. Ia memiliki watak banyak bercanda, pintar membuat lelucon, bahkan terkadang saking lucunya menjadi menjengkelkan. Beradat lancang, tetapi jujur, dan juga sakti. Kalau menjalankan tugas terkadang tergesa-gesa kurang perhitungan. Bagong bersuara besar dan kedengaran agak kendor di leher.


Ada yang mengatakan kalau Bagong berasal dari kata Baghoo (bahasa Arab) yang artinya senang membangkang/ menentang, tidak mudah menurut atau percaya pada nasihat orang lain. Ini juga menjadi nasihat pada tuannya bahwa manusia didunia ini mempunyai watak yang bermacam-macam dan perlu diperhatikan dan diwaspadai dari watak dan karakter masing - masing watak tersebut.

Inti pendidikan dan budi pekerti :

  1. Hidup ini perlu hiburan bukan hanya pemikiran semata
  2. Setiap tindakan jangan terburu-buru dalam pelaksanaannya, harus diperhitungkan terlebih dahulu, minimal dampak negatif dan positif yang akan timbul akibat dari perbuatan kita tersebut.
  3. Pelajari berbagai macam watak/ karakter manusia agar kita bisa hidup bermasyarakat dengan baik.
  4. kejujuran modal utama dalam bermasyarakat, tanpa itu kita akan dijauhi oleh orang lain.

Makna Bagong dan Filosofinya, Tokoh Pewayangan Jawa.



PETRUK ............. . Merupakan anak pungut kedua Semar setalah adanya Gareng. Dia dijuluki Kanthong Bolong, yang berarti senang berdema, Doblajaya yang berarti pintar. Dalam cerita petruk merupakan tokoh yang paling cakap dan lihai dalam hal berbicara. 


Petruk bertempat tinggal di Pecuk Pecukilan bersama istrinya yang bernama Dewi Undanawati dan dianugerahi anak yaitu Bambang Lengkung Kusuma. 
  



  1. Momong ..................................... artinya bisa mengasuh.
  2. Momot ....................................... artinya dapat menampung segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
  3. Momor ...................................... artinya lapang dada ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
  4. Mursid ....................................... artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
  5. Murakabi ................................... artinya bermanfaat bagi sesama. 
Baca juga :Gareng dan filosofinya

    Pernah ada cerita ketika Pandawa ceroboh yaitu kehilangan jimat Kalimasada, yang berarti mereka lumpuh atas kemampuan kebijaksanaan dan kemakmurannya. Bambang Priyambodo, Bambang Irawan dan juga seorang Petruk menghadapi Mustakaweni untuk merebut jimat tersebut. Setelah bertarung akhirnya mereka berhasil mendapatkan jimat tersebut, dan Petruk dipercaya untuk membawanya. 

    Naasnya Petruk ditusuk hingga mati menggunakan keris pusaka "Kyai Jalak" oleh Adipati Karna. Ayah petruktidak tinggal diam, ia membantu Petruk dengan menghidupkannya dan merubah wujudnya menjadi Duryudana. Karna secara tidak sadar menyerahkan jimatnya ke Duryudana yang notabenenya adalah Gandarwa. Setelah mendapatkan jimatnya ia menyerahkan ke Petruk dan menasehati Petruk agar berhati-hati dalam menghadapi musuhnya. Bapaknya menyarankan pteruk untuk menyimpan jimatnya di atas kepalanya. Secara tidak langsung Petruk mendapatkan kekuatan.
     
    Akhirnya jimat tersebut oleh Gandarwa diserahkan kembali kepada Petruk, dan dia menasehati kalau menghadapi musuh Petruk harus hati-hati dan jimat tersebut diminta untuk diletakkan di atas kepalanya. Ternyata setelah jimat tersebut diterapkan sesuai anjuran ayahnya Petruk menjadi sangat sakti, tidak mempan senjata apapun. Karna-pun dapat dikalahkannya.Tak terasa akhirnya Petruk terpisah dengan tuannya Bambang Irawan. Petrukpun mengembara, semua negara ditakhlukkannya termasuk negara Ngrancang Kencana. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Keduwelbeh. Sedangkan raja yang asli menjadi bawahannya. Begitulah ketika Punakawan kalau sudah mengeluarkan kesaktiannya tidak ada manusiapun yang dapat menandinginya.

    Ketika akan mewisuda dirinya, semua raja negara bawahan yang ditaklukkannya hadir termasuk Astina. Yang belum hanya Pandawa, Dwarawati, dan Mandura. Semula ketiga raja negar tersebut tidak mau hadir, tetapi setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati (Prabu Kresna) menyerahkan hal ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diajukan sebagai wakil dari Dwarawati. Terjadilah peperangan yang sangat ramai antara Prabu Wel Keduwelbeh dengan Gareng dan Bagong, peperangan tidak segera berakhir karena belum ada yang menang dan belum ada yang kalah, sampai ketiganya berkeringat. Gareng dan Bagong akhirnya bisa mengenali bau keringat saudaranya Petruk dan yakin bahwa orang yang mengajak bertarung itu sesungguhnya adalah Petruk, maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi malah diajak bercanda, berjoged bersama, dengan berbagai lagu dan tari. Wel Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kerajaan. Setelah ingat .... ia segera lari meninggalkan Gareng dan Petruk. Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap, sang prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.

    Setelah terbuka semua Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti itu. ia beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan jimat Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun. Setelah menjadi raja jangan sombong dan meremehkan rakyat  kecil, karena rakyat kecil kalau sudah marah/ memberontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah Petruk ingin menyadarkan tuannya, karena kalau secara terang-terangan pasti tidak dipercaya bahkan mungkin dimarahi.

    Bagaimanapun Petruk merasa bersalah, kemudian ia minta maaf. Pandawapun akhirnya memaafkan Petruk dan dengan senang hati menerima nasihat Petruk. 

    Inti pendidikan budi pekerti yang bisa diambil dari cerita diatas : 
    1. Budi dan watak tidak dapat diukur dari penampilan/ fisik, tetapi dengan perilaku nyata.
    2. Bawahan harus setia pada atasan
    3. Mengerjakan tugas hingga tuntas dan diusahakan berhasil dengan baik
    4. Jangan merebut hak dan milik orang lain
    5. Semua tindakan harus dengan penuh perhitungan, jangan ceroboh dan tergesa-gesa mengambil keputusan.
    6. milikilah watak momong, momot, momor,mursid, dan murakabi
    7. Kalau sudah mulia jangan terlena
    8. Kalau salah harus berani mengakui dan meminta maaf



    Makna dan Filosofi Petruk Pewayangan Punokawan

    Gareng : Filosofi , Sifat, Makna dan Sejarah Cerita Singkat


    Gareng merupakan salah satu dari empat punakawan yang sering muncul di pertunjukan wayang. Gareng memiliki nama lengkap ‘Nala Gareng’, namun lebih akrabnya disebut ‘Gareng’ .

    GARENG ................. diambil oleh semar sebagai anak pertama, biasa disebut anak Gandarwa (sebangsa jin). gareng juga memiliki nama lain yaitu : Pancalpamor ( artinya menolak godaan duniawi ) Pegatwaja ( artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak menyukai makanan yang mahal dan menimbulkan penyakit (junk food). Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik). 




    Gareng adalah punakawan kedua setelah Semar. Ciri fisik Gareng :

    1. Mata juling................ artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang suatu keburukan.
    2. Tangan ceko (melengkung) ................... artinya tidak mengambil hak atas orang lain.
    3. Sikil gejik (seperti pincang) ................... artinya selalu waspada dalam melakukan suatu hal .
    Gareng mempunyai sifat humoris, setia terhadap tuannya dan juga dermawan. Gareng pernah mengembara disuatu daerah dan pernah menjadi raja Prabu Pandu Bergola di Kerjaan Parang Gumiwang. Karena dia kuat/ sakti mandraguna gareng mampu menaklukkan semua raja.

    Untunglah Pandawa mempunyai penasehat yang ulung, yaitu Prabu Kresna. Ia menyarankan kepada Semar, jika ia ingin bertemu dengan Gareng relakanlah Petruk untuk untuk menghadapi Pandu Bergola. Semar tanggap dengan ucapan Krena, sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya. Petruk berfikir Semua raja juga termasuk Pandawa saja dikalahkan Pandu Bergola, apa jadinya kalau dia yang menghadapinya. Melihat kegamangan Petruk, Semar mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu petruk menjadi semangat dan girang, kemudian ia berangkat menghadapi Pandu Bergola. 

    Saat Pandu Bergola sudah berhadapan dengan Petruk, ia selalu membelakangi ( tidak mau bertatap muka), jika terpaksa bertatap muka ia selalu menunduk. Tetapi Petruk senantiasa mendesak untuk bertanding. Akhirnya terjadilah perang tanding yang sangat ramai, penuh kelucuan dan juga kesaktian. Saat pergumulan terjadi Pandu Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Tetapi Petruk belum menyadarinya. Pergumulan terus berlanjut ........ sampai pada akhirnya Semar memisahkan keduanya. Begitu tahu wujud asli Pandu Bergola ...... Petruk memeluk erat-erat kakaknya (Gareng) dengan penuh girang. semua keluarga Pandawa ikut bersuka cita karena abdinya telah kembali.

    Gareng ditanya oleh Kresna, mengapa melakukan seperti itu. ia menjawab bahwa dia ingin mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan lupa karena sudah makmur sehingga kurang/ hilang kehati-hatian serta kewaspadaannya. Bagaimana jadinya kalau negara diserang musuh dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan rakyat menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng mengingatkan pada rajanya. Pandawa merasa gembira dan beruntung punya abdi seperti Gareng.

    baca juga: makna bagong dan filosofinya

    Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah :

    1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya. Budi itu terletak di hati, watak tidak tampak pada wujud fisik tetapi pada tingkah dan perilaku. Belum tentu fisiknya cacat hatinya jahat. 
    2. Manusia wajib saling mengingatkan.
    3. Jangan suka merampas hak orang lain.
    4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.
    5. Kalau bertindak harus dengan penuh perhitungan dan hati-hati.






    Gareng : Filosofi, Makna yang Terkandung dalam Kehidupannya